Tampilkan postingan dengan label laporan pendahuluan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laporan pendahuluan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2014

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN BATU GINJAL



A. DEFINISI
Batu Ginjal adalah batu di kalik atau pyelum ginjal. Batu  perkemihan ( urolithiosis dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan yaitu ginjal, ureter, kandung kemih. Tapi yang sering ditemukan di dalam ginjal atau reprolithiesis.

B. ETIOLOGI
a. Infeksi saluran kemih terutama oleh bakteri pemecah urea (urea spilitter bacteria ) seperti klebsiella, ecericia colli, proteus pseudomonas
b. Hyperparatiroidesima yaitu terlalu banyak calsium dalam urine.
c. Imobilisasi / tirah baring yang lama.
d. Penyakit metabolik bawaan  misalnya : GOUT yaitu peningkatan  kadar asam  urat dalam darah.
e. Makanan yang mengandung oksalat seperti keju, bayam, kangkung, kopi, teh, nanas, coklat.
f. Intoksikasi vitamin D
g. Cystine : sycteneurin dampak dari gangguan genetika dari metabolisme asam amino.

C. PATOFISIOLOGI
Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran  kemih urolithiasis merupakan kristalisasi dari mineral dan matrix seperti : pus, darah dan urat. Komposisi mineral dari batu ginjal bervariasi, kira-kira 75 % bagian dari batu adalah calsium sedangkan jenis batu yang lain adalah batu asam urat, phospat, systine, batu smuriternfectim stone.

D. PELAKSANAAN
a. Konservasi
Bila batu masih kecil, masih bisa melewati ureter, besar batu  0.6 cm.
1. Spasmolitik ( untuk mengendorkan otot ureter ).
2. Banyak minum dan pemberian obat-obat diuritis.
3. Penderita dianjurkan untuk banyak bergerak
b. Operasi
Dilakukan bila batu diperkirakan tidak dapat keluar secara spotan dan terdapat indikasi :
1. Bila telah terjadi hidroneproses ginjal
2. Terdapat komplikasi  infeksi  saluran kemih (ISK)
Jenis Operasinya
1. Hanya mengeluarkan batunya bila fungsi ginjal baik
2. Nefrektomy yaitu ginjal diangkat bila fungsi ginjal jelek dan tidak dapat bergenerasi lagi karena sumber infeksi.
Komplikasi
1. Pienefrosis
2. Hydronefrosis akibat penyumbatan aliran urine
3. Gagal ginjal dapat terjadi jika kedua ginjal terkena dan mengalami kerusakan.
4. Kerusakan pada ginjal atau ureter akibat  iritasi lokal.

E. PENGKAJIAN
a. Data subyektif
1. Pasien mengatakan nyeri pinggang menjalar ke punggung dan nyeri tekan sympatis.
2. Kualitas nyeri seperti ditusuk.
3. Pasien bila kencing disertai nyeri pinggang sampai punggung.
4. Pasien sering kemih.
5. Pasien belum pernah menjalani operasi, merupakan pengalaman pertama.
6. Pasien tidak tau rencana operasi yang akan dilakukan.
7. Pasien tidak bisa tidur.
b. Data Obyektif
1. Raut wajah tampak kesakitan saat ditekan daerah shympisis.
2. Pasien mengaduh kesakitan.
3. Pasien berkeringat.
4. Pasien tampak sedih.
5. Pasien gelisah dan mondar-mandir
6. Pasien selalu bertanya tentang rencana operasinya.
7. Pasien sering berkemih
8. Urine output < 50 cc.

F. DIAGNOSA, TUJUAN, KRITERIA HASIL, RENCANA KEPERAWATAN
1. Kecemasan sehubungan dengan ketidaktahuan tentang prosedur pembedahan
Tujuan :
Kecemasan teratasi
Kriteria Hasil :
1. Ungkapan rasa cemas berkurang.
2. Penampilan rileks.
Rencana Tindakan ;
a. Tingkatkan hubungan saling percaya dengan pasien.
b. Berikan informasi tentang prosedur penyakit, prosedur pembedahan serta akibatnya.
c. Anjurkan pada pasien untuk mendekatkan diri kepada Tuhhan Y.M.E menurut agama dan keyakinan individu.
d. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan tingkat kecemasannya
e. Lakukan observasi gejala cardinal.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk hal-hal yang berhubungan dengan operasinya.

2. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) sehubungan dengan adanya batu pada daerah yang sempit di ureter atau ginjal.
Tujuan :
Rasa nyeri dapat diatasi/hilang.
Kriteri Hasil :
1. Kolik berkurang/hilang
Rencana Tindakan :
a. Berikan posisi serta lingkungan yang nyaman.
b. Ajarkan teknik relaksasi, distorsi untuk menghilangkan rasa sakit tanpa obat-obatan.
c. Kolaborasi dengan tim medis :
1. Pemberian anti spasmotik
2. Pemberian obat-obatan narkotika dan tindak lanjutan.

3. Perubahan eliminasi urine sampai dengan obstruksi saluran kemih.
Tujuan :
Eliminasi urine kembali normal.
Kriteria Hasil :
1. Produksi urine cukup.
2. Pasien tenang, rileks
Rencana Tindakan :
a. Jelaskan pada pasien penyebab terjadinya perubahan pada eliminasi urinnya.
b. Observasi produksi urine.
c. Jelaskan pentingnya pemasukan cairan.
d. Anjurkan pasien untuk minum air putih 6-8 lt perhari selama tidak ada kontraindikasi.
e. Batasi aktifitas fisik yang berat.
f. Jelaskan pentingnya diet rendah kalsium, protein, pospat
g. Kerjasama dengan tim medis untuk tindakan selanjutnya.

G. PELAKSANAAN
Pelaksanaan tindakan perawatan merupakan implementasi dari rencana tindakan yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan terpenuhi secara optimal. Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh penderita itu sendiri, oleh perawat secara mandiri atau mungkin dapat dilaksanakan dengan bekerja sama antara lain kesehatan lainnya misalnya ahli gizi dan fisioterapi
H. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses perawatan untuk mengetahui hasil dari rencana dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan SOAP

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN THYPOID ABDOMINALIS


Definisi
Suatu penyakit infeksi akut yang menyerang pada perut yaitu pada usus halus

Patofisiologi
Infeksi peroral dan didalam usus halus pasien, kuman ini dalam peyer’s plaque yang kemudian mengikuti aliran limfe ke kelenjar mensenterial berkembang biak mengikuti aliran limfe melalui duktus thoracicus sampai ke dalam aliran darah.
Kuman Salmonella biasana bersarang pada hepar, lien, kandung empedu, ginjal, sumsum tulang.
A.    Etiologi
1.    Salmonella typhii
2.    Salmonella paratyphii
B.     Cara penularan
Melalui air dan makanan yang terkontaminasi kuman Salmonella.
C.     Gejala klinik
Minggu I
1.    Gejala prodermal menyerupai infeksi akut pada umumnya seperti malaise mialgia, nyeri kepala, anoreksia nausea, vomitting, seba, batuk, febris.
2.    Awalnya terjadi diare lalu obstipasi
3.    Rose spot:
a.    Timbul pada akhir minggu 1 pada punggung dan ekstremitas
b.    Bintik merah karena emboli kuman dalam kapiler kulit
Minggu II
1.    Gejala lebih jelas, febris tinggi turun menerus, tidak hilang dengan antipiretika, tidak menggigil dan tidak berkeringat
2.    Bradikardi
3.    Lidah, bagian tengah berserabut putih, tepi dari ujung merah, tremor
4.    Hepatosplenomegali, meteorismus
Minggu III
Temperatur berangsur turun dan kembali normal pada minggu ke III

Penatalaksanaan
A.    Medikamentosa
1.    Kloramphenikol : hari ke I sampai hari ke III 4 x 250 mg
2.    Ampisilin dosis 60-150 mg/Kg BB/hari
3.    Kotikosteroid : untuk penderita toksik
4.    Vitamin B komplek dan vitamin C
B.     Penataan Diet
1.    Isolasi dan desinfeksi pakaian
2.    Bed rest
3.    Diet tinggi kalori tinggi protein

Pengkajian
A.    Data subyektif
1.         Demam sejak bebrapa hari
2.         Demam turun pagi hari, meningkat sore/malam hari
3.         Badan terasa lemas
4.         Mual-mual
5.         Nafsu makan menurun
6.         Muntah-muntah
7.         Pusing
8.         Perut terasa kembung, sebah
9.         Susah buang air besar, kadang-kadang diare
10.     Nyeri kepala
B.     Data obyektif
1.         Peningkatan suhu tubuh
2.         Muka kemerahan
3.         Bibir kering, pecah-pecah, kadang-kadang mengelupas dan berdarah.
4.         Lidah kotor dan selaput putih ditengah dan ditepi kadang-kadang lidah tremor
5.         Bau mulut tidak sedap
6.         Berkeringat, relatif bradikardi
7.         Muntah-muntah
8.         Jumlah konsumsi makanan menurun
9.         Perut kembung, bising usus meningkat, terdengar suara timpani
10.     Gangguan kesadaran
11.     Hepatomegali, splenomegali
12.     Atrofi otot-otot ekstremitas
13.     Terjadi penurunan berat badan dan pasien tampak kurus
14.     Terjadi kerontokan rambut
Diagnosa, Tujuan, Kriteria Hasil
A.      Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan proses (suhu tubuh yang meningkat)
Tujuan :
± 3 jam panas turun
Kriteria hasil ;
1.    Suhu tubuh normal (360C-370C)
2.    Penderita tidk gelisah
3.    Pederita tidak kehausan
Rencana tindakan :
1.    Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
2.    Beri kompres dingin di kepala, axila,dahi
3.    Beri pasien minum banyak
4.    Observasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, tensi
5.    Beri baju tipis
6.    Laksanakan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik.
B.       Gagguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan radang usus yang ditandai mual, muntah, anoreksia
Tujuan :
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi dalam waktu ± 2 hari
Kriteria hasil:
1.    Mual berurang, tidak muntah, nafsu maan meningkat, porsi makan yang diberikan dihabiskan
Rencana tindakan:
1.    Berikan makanan sedikit tapi sering
2.    Berikan makanan lunak
3.    Observasi makanan yang dihabiskan
4.    Ciptakan ruangan yang bersih dan tenang
5.    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian roborantis
C.       Potensial terjadinya dehidrasi sehubungan dengan diare
Tujuan:
Pasien terpenuhi kebutuhan cairan setelah ± 2 hari setelah dilakukan tindakan
Kriteria hasil :
Konsistesi BAB normal
Rencana tindakan :
1.    Jelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan
2.    Berikan minum banyak
3.    Observasi tanda-tanda vital
4.    Observasi tanda-tanda dehidrasi
5.    Observasi karakteristik diare
6.    Laksanakan kolaborasi dengan dokter dalam pengibatan

Pelaksanaan
Adalah pengelolaan dan perwujudan dari tindakan perawatan yang telah direncanakan

Evaluasi

Pada evaluasi dititik beratkan pada tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini perawat harus menilai hasil yang didapatan dibandingkan dengan rencana tujuan yang diharapkan.

ASUHAN KEPERAWATAN PATAH TULANG

A. DEFINISI
Patah tulang atau fraktur adalah putusnya atau hilangnya kontinuitas dari pada struktur tulang.
Jenis patah tulang :
1. Patah tulang terbuka
Adalah patah tulang apabila tulang yang patah merembes jaringan lunak sekitarnya. Sehingga terjadi hubungan antara tulang dengan udara
2. Patah tulang tertutup
Adalah patah tulang yang tidak merembes ke jaringan sekitarnya sehingga tidak terjadi hubungan dengan udara luar.

B. PATOFISIOLOGI
Patah tulang dapat terjadi dalam keadaan normal dan patologis. Dalam keadaan normal apabila tulang yang hidup normal kemudian mendapat tekanan atau kekerasan yang cukup kuat sehingga menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan juga menimbulkan kerusakan yang hebat pada struktur jaringan lunak disekitarnya. Sedangkan keadaan patologis, patah tulang disebabkan oleh karena proses penyakit.

C. PENATALAKSANAAN
Beberapa penatalaksanaan patah tulang
1. Dengan pemasangan trakksi
Merupakan suatu tindakan penarikan untuk memindahkan lokasi tulang yang patah ke tempat normal kembali secara kontinyu dengan menggunakan kerekan atau beban
2. Dengan operasi untuk pemasangan fiksasi baik fiksasi terbuka atau tertutup
3. Pemasangan bidai atau gips.

D. PENGKAJIAN
1. Data subjektif
a. Lemas
b. Nyeri bila bergerak
c. Tidak dapat melakukan aktivitas
d. Ekstremitas tidak dapat untuk digerakkan
e. Riwayat trauma
2. Data objektif
a. Anemis
b. Penderita membatasi gerak
c. Nyeri
d. Oedem
e. Ada luka terbuka
f. Tanda-tanda shock
g. Adanya mal formasi
h. Adanya krepitasi
3. Data laboratorium
a. Penurunan kadar Hb, leukositosis
b. DL dan UL
4. Data lain yang menunjang
Pemeriksaan radiologi (adanya gambaran tulang yang patah)

E. DIAGNOSA, TUJUAN, KRITERIA HASIL, RENCANA TINDAKAN

Pada penderita patah tulang dapat muncul beberapa diagnosa keperawatan antara lain:
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak sekunder terhadap patah tulang
 Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan rasa nyamana dapat terpenuhi dalam waktu 2x24 jam.
Kriteria hasil
a. Penderita menyatakan nyeri berkurang atau hilang
b. Penderita tidak kelihatan gelisah
c. Penderita tidak menunjukkan grimace diwajah
d. TTV dalam batas normal
Rencana tindakan
a. Pertahankan imobilisasi pada bagian yang patah dengan menggunakan traksi atau bidai
b. Atur posisi yang nyaman sesuai kebutuhan pasien
c. Jelaskan penyebab timbulnya rasa nyeri
d. Ajarkan tekhnik relaksasi dan distraksi pada pasien
e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, pemasangan bidai, ketakutan
Tujuan:
Pasien dapat melakukan tingkat mobilitas yang optimal.
Kriteria hasil
a. Penderita dapat melakukan perawatan diri sehari-hari dalam batasan adanya ketidakmampuan fisik
b. Kebutuhan pasien terpenuhi
c. Mempertahankan aturan latihan seperti yang dianjurkan oleh dokter  atau ahli terapi
Rencana tindakan
a. Kaji ketidakmampuan penderita dan jelaskan tentang tujuan immobilisasi
b. Lebarkan keluarga dalam tindakan pemenuhan kebutuhan paien
c. Bantu penderita untuk berlatih gerak sesuai dengan kemampuannya
d. Ajarkan pada penderita cara yang aman untuk mobilisasi
e. Bantu pasien dengan analisa aktivitas sehari-hari
f. Ajarkan pasien tentang pengguna alat bantu gerak
3. Potensial gangguan perfusi jaringan berhubungn dengan penurunan sirkulasi darah
Tujuan :
Perfusi jaringan terpelihara dengan adekuat
Kriteria hasil
a. TTV dalam batas normal
b. Akral hangat  warna kulit normal ddan produksi normal
Rencana tindakan
a. Observasi TTV pasien sesuai dengan kebutuhan
b. Hindari tekanan oleh balutan yang terlalu kencang atau rapat
c. Observasi tanda-tanda gangguan perfusi jaringan, antara lain: cyanosis, akral dingin, CRT > 2 detik
d. Periksa dan latih persendian diatas dan dibawah daerah imobilisasi
e. Jaga posisi ekstremitas yang cidera sedikit lebih rendah dari jantung
f. Instruksikan pada pasien untuk sementara melapor kepada perawat atau dokter bila menemukan tanda/gejala penurunan perfusi
4. Potensial gangguan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan keterbatasan gerak
Tujuan :
Tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil
a. Tidak ditemukannya tanda-tanda kerusakan jaringan
b. Kulit bersih dan terawat
c. Pasien atau keluarga mengetahui tanda-tanda tterjadinya gangguan integritas kulit
Rencana tindakan
a. Periksa seluruh permukaan kulit terutama pada daerah yang tertekan
b. Kaji keadaan luka jika ada
c. Lakukan pemijatan disekitar luka pada saat megobati luka dan jaga kebersihan daerah sekitar luka
d. Berikan alas kering pada daerah yang tertekan
e. Berikan bedak atau talk pada daerah yang tertekan
f. Lakukan mobilisasi sesuai dengan kemampuan dan kondisi pasien
5. Potensial terjadinya kaku sendi berhubungan dengan penderita immobilisasi\
Tujuan
Tidak terjadi kekakuan sendi
Kriteria hasil
a. Mempertahan ROM penuh pada persendian yang terkena cidera
b. Mengistirahatkan dan memberikan sokongan pada persendian yang terkena cidera
Rencana tindakan
a. Berikan penjelasan pada penderita dan keluarga tentang penyebab kaku sendi
b. Kaji dan catat keterbatasan gerak dari sendi
c. Bimbing pasien melakukan latihan ROM pasif sebelum melakukan ROM aktif pada semua persendian tetapi tidak pada persendian yang terkena secara akut untuk menjamin keamanan dan efisien
d. Berikan istirahat dan sokongan terhadap persendian yang terkena secara akut
e. Ajarkan cara melakukan latihan luas gerak sendi
f. Bebat lengan dan pergelangan yang berat
g. Kolaborasi dengan tim fisioterapi
6. Potensial infeksi berhubungan dengan invasi kuman pada luka
Tujuan
Tidak terjadi infeksi pada luka
Kriteria hasil
a. Pemeriksaan kultur menunjukkan hasil yang negatif
b. Leukosit dalam batas normal
c. Pasien atau keluarga mengenal tanda-tanda infeksi, tidak terjadi peningkatan suhu tubuh
d. TTV dalam batas normal
Rencana tindakan
a. Berikan penjelasan pada penderita tentang tanda dan gejala terjadinya infeksi
b. Observasi dan catat daerah sekitar luka
c. Rawat luka secara teratur dengan tekhnik aseptik antiseptik dan usahakan luka tetap bersih dan kering
d. Anjurkan pada pasien untuk menjaga kebersihan badan dan oral hygiene dengan baik
e. Cegah pemaparan pasien dengan pengunjung atau orang yang terkena infeksi
f. Cuci tangan sebelum kontak dengan pasien
g. Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium (kultur dan darah)
h. Observasi TTV khususnya suhu tubuh setiap 4 jam
i. Kolaborasi dengan dokter, untuk pemberian antibiotika.
7. Potensiial gangguan eliminasi alvi berhubungan dengan imobilisasi, nyeri, ketakutan
Tujuan
Tidak terjadi gangguan eliminasi alvi (konstipasi, sembelit)
Kriteria hasil
Penderita dapat buang air besar satu kali sehari tanpa mengalami kesulitan
Rencana tindakan
a. Kaji kebiasaan buang air pasien
b. Periksa auskultasi peristaltik usus
c. Bantu pasien untuk melakukan mobilisasi/ambulasi
d. Berikan cairan yang adekuat kepada pasien sesuai kebutuhan
e. Berikan diet TKTP tinggi serat dan hondari makanan yang banyak mengandung gas
f. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat laksative bila diperlukan

F. PELAKSANAAN
Pelaksanaan tindakan perawatan merupakan implementasi dan rencana tindakan yang telah ditentukan, dengan maksud agar kebutuhan terpenuhi secara optimal. Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh penderita itu sendiri, oleh perawat secara mandiri atau mungkin dapat dilaksanakan dengan bekerja sama antara tim kesehatan misalnya ahli gizi dan fisioterapi

G. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses perawatan untuk mengetahui hasil dari rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan SOAP.
 

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA KEPALA

DEFINISI :
Trauma kepala adalah cedera pada kepala
PATOFISIOLOGI :
Tengkorak dan jaringan kulit sebagai pelindung jaringan otak mempunyai daya stabilitas dan daya serap tekanan untuk mengatasi trauma apabila dipukul atau terbentur benda tumpul. Namun pada tempat benturan, beberapa mili detik akan terjadi depresi maksimal diikuti isolasi. Trauma pada kepala dapat menyebabkan fraktur pada tengkorak dan trauma jaringan lunak/otak atau kulit seperti kontusio/ memar otak, edema otak, perdarahan atau laserasi, dengan derajat yang bervariasi, tergantung pada daerah trauma. Salah satu manifestasi kerusakan otak akibat trauma kepala adalah gangguan kesadaran.
Disamping itu cedera tersebut mengundang komplikasi-komplikasi:
Edema otak yang pada gilirannya menyebabkan pergeseran otak dan herniasi.
Tekanan intrakranial yanh sangat tinggi hingga berakibat pengurangan aliran darah otak.
Hematoma subdural dan hematoma dalam parenkim otak juga berakibat pergeseran otak yang terjadi.
Macam-macam trauma kepala:
1. Commotio cerebri (gagar otak)
Gangguan fungsi otak akibat trauma/ akselerasi-deselerasi kepala.
2. Contusio cerebri (memar otak)
Cedera otak berupa perdarahan- perdarahan kecil, edema dan nekrosis dalam jaringan otak. Bila membran pia-glia terobek disebut Laserasio Cerebri.
PENATALAKSANAAN :
dalam penatalaksanaan dipakai gradasi ringan, sedang berat sebagai berikut:
Grade Derajat GCS Kriteria
I Ringan 14-15 Hilang kesadaran sekejap pada pemeriksaan sadar tanpa gejala neurologis
II Sedang 09-13 Hilang kesadaran sementara. Tidak sadar
III Berat 04-09 Saat diperiksa tidak dapat mengikuti perintah. Respon verbal tidak tepat
IV Mati otak <3 Tidak ada tanda fungsi otak


Di kamar berat/ UGD dilakukan:
Pemeriksaan dan seleksi penderita
Penanganan dan pemulihan stabilitas fungsi vital.
Perawatan luka dan lain yang diperlukan.
Penderita yang tidak sadar, tanpa gejala neurologis serta tanpa faktor resiko lain dapat diobservasi di UGD dan dipulangkan dengan nasehat bila ada penurunan kesadaran.

Di ruang perawatan:
1. Lanjutkan observasi
2. Optimalisasi, stabilisasi dan pengendalian faal vital.
3. Sirkulasi: infus, cairan disesuaikan menurut kebutuhan, tidak over hidrasi.
4. Pernafasan: menghisap sekret, darah, muntahan dan penakaian respirator menurut indikasi.
5. Nutrisi: lewat pipa lambung atau oral menurut keadaan penderita.
6. Cairan hypertonik digunakan menurut kebutuhan/ indikasi.

PENGKAJIAN:
 a. Data subyektif:
Sesak nafas
Nyeri dada bila bernafas
Nyeri kepala
Mual/ muntah
Sulit kencing
b. Data obyektif:
Suara nafas tambahan (whessing dan ronkhi)
Stridor/ ngorok
Pemeriksaan neurologis (pupil dan reflek kornea)
Tensi/ nadi/ suhu
Hemiplegi/ kejang
GCS menurun
Bising usus
c. Data laboratorium:
Evaluasi hasil elektrolit dan BJ plasma
Leukositosis
UL dan DL
d. Data penunjang: pemeriksaan radiologi

DIAGNOSA, TUJUAN, KRITERIA HASIL, DAN RENCANA TINDAKAN
1. Perubahan pola nafas sehubungan dengan adanya muntah dan lendir.
Tujuan: pola nafas kembali normal
Kriteria hasil:
Pernafasan teratur
Pernafasan 28-30x/menit
Rencana tindakan:
a. Atur posisi yang benar
b. Bersihkan mulut dan hisap lendir dengan hati-hati
c. Lakukan fisioterapi nafas sesuai dengan keadaan umum penderita
d. Observasi adanya tanda-tanda aspirasi

2. Gangguan sirkulasi darah sehubungan dengan aliran O2 ke otak terganggu.
Tujuan: sirkulasi darah ke otak terpenuhi
Kriteria hasil:
Perfusi perifer normal
Turgor kulit elastis
Produksi urine 100 cc/ 3 jam
Elektrolit dan berat jenis plasma normal
Rencana tindakan:
Berikan cairan sesuai program
Catat intake dan output cairan
Observasi produksi urine
Observasi tanda-tanda dehidrasi
Bila suhu meningkat berikan kompres dingin

3. Gangguan kesadaran sehubungan dengan penekanan batang otak
Tujuan: kesadaran normal
Kriteria hasil:
GCS normal
Pupil isokor
 Rencana tindakan:
a. Kurangi manipulasi kepala yang berlebihan
b. Tidurkan kepal 20 derajat dari jantung
c. Jaga ketenangan lingkungan
d. Bebaskan jalan nafas
e. Hindarkan penderita dari batuk
f. Observasi tanda-tanda tekanan intrakranial meningkat, yaitu tensi, nadi, suhu, GCS.
g. Lakukan program terapi dokter.

4. Gangguan pola eliminasi sehubungan dengan gangguan syaraf otonom/ mobilisasi kurang.
Tujuan: eliminasi kembali normal
Kriteria hasil:
Penderita dapat kecing dan BAB sendiri
Pendeita tidak kesakitan pada waktu kencing/ BAB
Rencana tindakan:
a. Minum banyak bila penderita sadar.
b. Cegah infeksi saluran kencing.
c. Ganti kateter tiap 1 minggu.

PELAKSANAAN:
Pelaksanaan tindakan perawatan merupakan implementasi dari rencana tindakan yang telah ditentukan, dengan maksud agar kebutuhan terpenuhi secara optimal. Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh penderita itu sendiri, oleh perawat secara mandiri atau mungkin dapat dilaksanakan dengan bekerjasama antara tim kesehatan lainnya, misalnya ahli gizi dan fisioterapi.

EVALUASI:
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses perawatan untuk mengetahui hasil dari rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan SOAP.

LUKA BAKAR

DEFINISI
Luka bakar adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh panas, arus listrik atau bahan kimia yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan jaringan yang lebih dalam
PENYEBAB LUKA BAKAR
Sesuatu yang panas sehingga menyebabkan kerusakan kulit, antara lain :
Air atau minyak panas
Api kebakaran, udara panas
Radiasi, sinar matahari atau sinar yang lain
Bahgan kimia H2Soa, KOH dll
Listrik (petir)
KEDALAMAN LUKA BAKAR (GRADIASI)
Di bagi menjadi 4 derajat yaitu:
1. Derajat I (Erythema) :
Hanya mengenai epidermis
Kemerahan nyeri, panas
Kulit tidak sampai terkelupas. Akan sembuh tanpa perawatan khusus dalam 3 sampai 6 hari
Pengobatan hanya diberikan analgetik
2. Derajat II (Bullosa) :
Kerusakan pada bagian epidermis dan bagian atas dermis
3. Derajat III (superficial) :
Masih banyak komponen dermis yang tidak rusak
Timbul bulia terisi cairan
Warna kulit lebih pucat
Kemungkinan infeksi lebih banyak
Penyembuhan antara 3 – 5 minggu, biasanya disertai cacat
4. Derajat IV :
Kerusakan pada saluran tebal kulit
(epidermis – Dermis ) dan jaringan di bawahnya, berwarna pucat, hitam dan kering
Sensibilitas kurang
Penyembuhan memerlukan graft
PENGGOLONGAN LUKA BAKAR
1. Tingkat parah (critical) yaitu :
Grade II : lebih dari 30%
Grade III: lebih dari 10%
Dengan bahayanya komplikasi, antara lain:
o Jalan napas I tractus respiratorius
o Kerusakan jaringan yang lain
o Grade II pada daerah yang peka seperti leher, tangan dan kaki
2. Tingkat sedang (Moderate) yaitu:
Grade II : 15 - 30%
Grade III: 2 -  10%
3. Tingkat ringan (Mild) yaitu :
Grade I
Grade II:   < 15%
Grade III:  < 2%

Indikasi perawatan dirumah sakit yaitu luka bakar tingkat sedang dan parah.
PROGNOSA DAN ANGKA KEMATIAN
Prognosa dan angka kematian pada luka bakar dipengaruhi oleh derajat dan luasnya luka bakar serta usia penderita. Tidak ada perbedaan angka kematian antara wanita dan pria.
PATOFISIOLOGI
Kebakaran disebabkan oleh perpindahan energi panas dari sumber panas ke dalam tubuh. Panas dapat di transfer melalui hantaran atau radiasi elektromagnetik.  Luka bakar disebabkan panas, radiasi, listrik atau bahan kimia. Kerusakan jaringan akibat koagulasi denaturasi dari saluran nafas bagian atas adalah jaringan yang lebih umum mengalami kerusakan. Jaringan yang dalam, mengikuti organ di dalam tubuh dapat mengalami kerusakan karena luka bakar yang disebabkan arus listrik atau kontak yang lama dengan penyebab luka bakar. Kedalaman luka bakar tergantung temperatur penyebab luka bakar dan lamanya kontak dengan penyebab. Sebagai contoh pada luka bakar karena air panas, maka air panas dengan temperatur 68,9 C yang mengenai selama satu detik mengakibatkan luka bakar yang merusak epidermis dan dermis – Derajat III)
Dalam 15 detik pada tempat tebuka, air panas dengan suhu 56,1 C akan terjadi luka bakar dengan derajat yang sama dengan diatas.
Efek pertama pada luka bakar adalah terjadinya dilatasi kapiler dan pembuluh darah kecil pada tempat yang terbakar serta meningkatnya permeabilitas kapiler. Plasma keluarv menuju jaringan sekitarnya sehingga terjadi bulla dan odem.
Tipe, lama dan identitas dari luka bakar mempengaruhi banyaknya dan lamanya kehilangan cairan pada umumnya kebocoran cairan terjadi pad 24 – 46 jam pertama setelah terbakar. Pada luka bakar yang berat, sebagian kecil mengalami kebocoran kapiler berlanjut sampai beberapa minggu. Kebocoran kapiler tidak terbatas pada daerah yang terbakar saja, ketika luka bakar lebih dari 30% permukaan tubuh, lebih sering odem terjadi diseluruh tubuh.
Pada luka bakar, plasma, protein dan elektrolit hingga dari compartement darah dan menuju inters tial. Tetapi sel darah merah tetap di compartement darah yang mengakibatkan meningkatnya vicitas darah hematokrit dan hemoglobin pada jam – jam pertama setelah luka bakar hilangnya cairan pada luka bakar mengakibatkan penurunan volume cairan pada sistem vaskuler dan jatuhnya tekanan darah cardiac out put. Respon sistem saraf simpatis terhadap shock luka bakar ini berupa meningkatnya resistensi perifer, akibatnya nadi menjadi lemah dan cepat
Ketika kapiler mencapai integritasnya 48 – 72 jam setelah luka bakar, cairan kembali ke compartement darah dan penderita memasuki fase dari perawatan luka bakar. Cairan diabsorbsi dari jaringan intertitial ke compartement darah, volume darah meningkat diuresis berkelanjutan dari badan. Selama periode ini penderita berada pada resiko tinggi untuk menjadi overload cairan dan membutuhkan obat cardiactonic dan diuretik untuk memperbaiki sirkulalasi dan mencegah kegagalan jantung kongesti. Pengurangan atau restriksi cairan dibutuhkan untuk mencegah odem paru.
PENATALAKSAAN
Penatalaksanaan terhadap penderita luka bakar harus memperhatikan urutan prioritas sebagai berikut:
a. Pernafasan
Bila saluran nafas ikut terbakar maka akan terjadi odem dan hipersekresi saluran napas. Penderita akan sesak dan terdengar stridor, mungkin pula ronkhi. Segera dinilai apakah perlu dilakukan tracheostomi untuk mengatasi odema larynx atau untuk memeperkecil dead space pernafasan.
b. Cairan
Orang dewasa dengan luka bakar tingkat II – III (20% atau lebih) sudah ada indikasi untuk pemberian infus, karena kemungkinan timbulnya shock dan dilatasi lambung.
Sedangkan pada anak dan orang tua batasnya 15%. Cairan kristaloid selama 24 jam pertama, diikuti koloid pada 24 jam berikutnya formula Baxter sama dengan Parkland yaitu suatu resusitasi kristaloid RL 4 cc / kg BB / presentase luas luka bakar. Setengah dari jumlah tersebut diberikan dalam 8 jam pertama dan setengahnya 16 jam berikutnya. Setelah 18 jam diberikan koloid 500 – 1000 cc. Pada hari kedua umunya tidak diberikan lagi kristaloid, karena Na sudah amat tinggi, tetapi diberikan larutan glukosa untuk mempertahankan urine produksi elektrolit lain tergantung pantauan laboratorium
c. Rasa nyeri
Rasa nyeri yang hebat dapat menyebabkan neurogenik shock yang terjadi pada jam – jam pertama dari trauma. Analgetik dan morfin diberikan intravena agar bila penederita jatuh dalam shock maka pemberian im / SC akan tidak efektif, morfin diberikan dalam 0,05 mg 1 kg IV
PERTOLONGAN PETAMA
1. Matikan api atau menjauhkan penderita dari sumber panas. Cegah penderita untuk tidak berdiri atau lari, karena akan memperbesar nyala api. Anjurkan untuk berguling atau ke bak air terdekat
2. Pada luka bakar karena bahan kimia, bilasan dengan air yang cukup banyak sengat menolong tanpa menunggu bahan penetral
3. Pada luka bakar dari sumber panas, bagian yang terbakar didinginkan dengan air bersih atau dengan selimut yang telah dibasahi untuk mencegah efek lebih lanjut dari panas dan mengurangu rasa nyeri
4. Pada luka bakar karena listrik, penolong dianjurkan mengenakan isolator agar tidak ikut dialiri arus listrik
5. Luka jangan dibubuhi dengan mentega, garam, kecap atau minyak tertentu karena sulit dibersihkan dan mengacaukan perhitungan luas luka bakar
PERAWATAN DEFINITIF
1. Perawatan tertutup
Setelah bersih di tutup dengan selapis kain steril berlubang – lubang (Tulle) yang mengandung vaseline atau tanpa antibiotika, lalu setumpuk kasa dan verband. Bebatnya cukup tebal sehingga eksudat lainnya tidak menembus keluar. Tujuan ini adalah melindungi luka dari trauma dan bakteri serta mengurangi evaporasi. Indikasi perawatan tertutup adalah penderita yang dirawat di poliklinik, luka tubuh yang melingkar dan jari – jari.
2. Perawatan terbuka
Eksudat yang keluar dari luka beserta debris akan mengering menjadi lapisan eschar yang bertindak sebagai verband. Ini kaku dan relatif kedap bakteri (Bacterial prof). Penyembuhan akan berlangsung dibawah eschar. Penderita akan di rawat di tempat tidur dan ruangan yang relatif steril. Sebab eschar yang pecah harus diberikan obat – obatan lokal dan dikontrol bila ada pus di bawah eschar dengan timbulnya panas, dan lain - lain
3. Obat – obatan lokal
Oleh karena jaringan – jaringaj nekrotik yang melekat pad luka dan tentunya tidak dapat dicapai dengan antibiotika yang diberikan secara sistematis, maka pada luka bakar pemberian obat – obatan lokal merupakan keghrusan.
4. Excisi dini
Pada luka bakar derajat IIB (dalam) dan derajat III harus dipertimbangkan untuk melakukan excisi dini. Biasanya pada hari ke 4 – 14 setelah keadaan stabil
5. Skin graft
Transplantasi dini sangat penting bagi penderita untuk mempercepat penyembuhan, mengurangi kehilangan cairan dan energi
6. Makanan
Makanan pada penderita luka bakar harus kaya energi. Dewasa normal 2000 – 2500 kalori / 24 jam. Untuk penderita dengan luka bakar 25 % memerlukan kalori 4000 – 5000 kalori / 24 jam
7. Rehabilitasi
Terapi fisik penting untuk memulihkan pergerakan pada sendi – sendi yang cedera akibat luka bakar
PENGKAJIAN
a. Data subjectif
Nafas terasa sesak
Mulut dan tenggorokan terasa kering
Perut terasa sakit dan sebah
Luka di wajah terasa nyeri
Perut terasa lapar dan badan terasa lemas
b. Data objectif
Ada lendir di leher, kemerahan dan bengkak
Turgor kulit jelek, hipotensi, tachicardi, bibir kering dan suara serak
Nyeri pada daerah perut
Terdapat luka wajah, jika diobati biasanya kesakitan
Luka kotor terdapat pus dan bau. Pada pemeriksaan terdapat kuman dan sel darah putih meningkat
Berat badan menurun, timbul odema anarkasa dan kulit ada bercak
c. Data laboratotium
Hematokrit
Terdapat peningkatan sekunder karena kehilangan cairan intra vaskuler
Hemoglobin
Penurunan sekunder karena hemolisis
BUN
Penurunan sekunder karena perpindahan cairan yang massive kurang intertitial
Urine (urinalisis, kultur)
DIAGNOSA, TUJUAN, KRITERIA HASIL, DAN RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Terjadinya gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen sehubungan dengan adanya trauma jalan napas / obstruksi jalan nafas bagian atas / odema paru
Tujuan :
Jalan nafas dan fungsi kembali normal
Kriteria hasil :
Penderita bernafas spontan
Frekuensi napas 16 – 20 kali / menit
Tidak terjadi hipoksia
Tidak terdapat sekret pada jalan napas
Rencana tindakan :
a. Bebaskan jalan nafas dengan posisi kepala extensi, hisap lendir bila ada
b. Beri O2 dengan kelembaban normal sesuai hasil kolaborasi dengan dokter
c. Kaji suara napas dan jumlah rata – rata / menit, irama dan tanda – tanda hipoksia
d. Observasi tanda – tanda eritema, lapuh pada bibir dan mukosa
e. Motivasi pada penderita untuk melakukan / merubah posisi, mengambil napas dalam dan hisap lendir jika dibutuhkan

2. Terjadinya gangguan keseimbangan cairan elektrolit sehubungan dengan rusaknya pembuluh darah perifer
Tujuan
Keseimbangan cairan elektrolit normal
Kriteri hasil :
Penderita menunjukkan intake, out put dan berat badan sesuai yang diharapkan
Produksi urine 0,5 – 1 cc / kg BB / jam
Penderita tidak merasakan kahausan
Hesil elektrolit dalam batas normal
Rencana tindakan :
a. Observasi tanda – tanda vital, produksi urine dan kesarafan
b. Beri cairan dan elektrolit sesuai instruksi dokter
c. Observasi status mental dan sensoris
d. Tinggikan tempat tidur bagian kepala dan tinggikan extremitas yang terbakar
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan luka bakar yang diderita
Tujuan :
Nyeri berkurang
Kriteria Hasil :
Penderita menunjukkan tingkat kenyamanan yang adekuat
Aktif melakukankegiatan sesuai kebutuhan
Penderita dapat tidur dengan nyenyak
Rencana tindakan :
a. Kaji rasa nyeri penderita dan bedakan dengan hipoksia
b. Beri analgetik sesuai program pengobatan dokter
c. Beri informasi dengan jujur untuk mendapatkan hasil yang optimal
4. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan hilangnya pertahanan kulit akibat luka bakar
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil :
Luka tampak bersih
Bebas dari tanda – tanda infeksi  lokal atau sistematik
Pemeriksaan kultur darah dan urine negatif
Rencana tindakan :
a. Terapkan teknik aseptik dalam merawat penderita
b. Beri antibiotika dan salep anti bakteria topikal sesuai dengan program terapi
c. Kaji keadaan luka tiap hari terhadap tanda – tanda infeksi
d. Motivasi untuk meningkatkan kebersiahn diri
PELKSANAAN
Pelaksanaan tindakan perawatan merupakan implementasi dari rencana tindakan yang telah di tentukan, dengan maksud agar kebutuhan terpenuhi secara optimal. Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oelh penderita itu sendiri, oleh perawat secara mandiri atau mungkin dapat dilaksanakan dengan bekerja sama antara tim kesehatan lainnya misalnya ahli gizi dan fisioterapi

EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah akhir dalm proses keperawatan, untuk mengetahui hasil dari rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan SOAP