Tampilkan postingan dengan label SAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2014

SAK TBC

TUBERKULOSIS PARU
( TBC )

A. DEFINISI
Tuberkulosis paru (TBC) adalah suatu penyakit infeksi kronik, akut / sub akut yang disebabkan oleh mikrobakterium tuberkulosis yang bersifat tahan asam, aerob, basil gram positif yang menyerang struktur alveolar paru-paru.
B. PATOFISIOLOGI
Penularan TBC terjadi karena kuman dibatukkan/ dibersihkan oleh penderita secara “Droplet Infection” (udara yang dihirup ketika bernapas) sehingga basil tersebut masuk ke dalam alveoli dan terjadi infeksi.
Tempat implantasi kuman TBC yang paling sering adalah permukaan alveoli dari parenkim paru pada bagian bawah lobus atas atau bagian atas lobus bawah. Reaksi basil ini merupakan proses peradangan aolveoli yang akut yang dapat sembuh sendiri dan dapat berkembang lebih lanjut dimana peradangan menjadi degeneratif dan eksudat menjadi lebih banyak. Gejala klinik penyakit ini bervariasi dari tanpa gejala, hanya dengan pemeriksaan kulit positif, sampai adanya gangguan paru-paru dan gangguan sistemik. Reaksi tubuh tergantung pada daya tahan tubuh individu, jumlah basil dan virulensi basil. Ada kalanya penderita yang terinfeksi basil tidak menunjukkan TBC aktif tetapi hanya ditunjukkan dari pemeriksaan kulit positif, foto thoraks (ditemukan adanya klasifikasi dan kavitas).
TBC aktif dapat terjadi pada seseorang yang mengalami stress fisik / emosi, orang-orang yang bekerja berat, kurang tidur, kurang makan, kelelahan yang terus menerus, stess yang berat / sakit kronik.
C. GEJALA
1. Badan terasa demam, meriang terutama sore atau malam hari
2. Keringat malam hari
3. Batuk-batuk, awalnya batuk kering lalu batuk produktif sampai batuk darah.
4. Berat badan menurun
5. Nafsu makan tidak ada
6. Rasa lemah, cepat lelah, rasa tidak enak badan
7. Nyeri dada jarang terjadi, timbul bila infiltrasi radang sudah sampai plirura.
8. Pembengkakan kelenjar limfe
9. Sesak napas timbul bila penyakit sudah lanjut.
D. PENATALAKSANAAN
1. Obat utama : INH, Ethabutol, Rimfampisin, Streptomicin.
2. Obat sekunder : PAS, Pirazinamide, Exhambutol
3. Analgesik
4. Diet : tinggi protein, tinggi karbohidrat
5. Isolasi Penderita
6. Tindak lanjut pada keluarga dan orang yang kontak dengan pasien setelah pulang.
7. Terapi bedah antara lain drainase abses paru, reseksi paru.
E. PENGKAJIAN
a. Data obyektif
Batuk-batuk produktif, batuk darah
Sesak napas
Malaise
Demam
BB turun
Keluar keringat pada sore dan malam hari
Pucat
Dahak
o Kuning kehijauan, banyak di pagi hari
o BTA positif
LED meningkat
Mantoux test positif
b. Data Subyektif
Nafas semakin turun, nyeri dada, sesak napas, batuk-batuk darah, sakit kepala.
c. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : laju endap darah meningkat, lekositosis, PAB-TB positif, sputum.
Diagnostik :
o Tuberkulosis PPD positif (hasilnya 10 mm atau lebih sesudah 24-72 jam).
o Foto thoraks : klasifikasi, pembesaran kelenjar limfe daerah hilus, pembesaran infiltrat. Adanya pleural efusion / kavitasi.
o Bronkoskopi
o Biopsil pleura
o Biopsi kelenjar limfe.
F. DIAGNOSA, TUJUAN, KRITERIA HASIL, DAN RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Kurang efektivitasnya pola pernapasan sehubungan dengan sekresi yang kental dan kemampuan batuk yang menurun.
Tujuan : pola pernapasan yang efektif, frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan normal, dispnea berkurang.
Kriteria Hasil :
Rencana Tindakan :
a. Kaji frekuensi, irama dan kedalaman frekuensi pernapasan
b. Kaji tanda-tanda adanya sianosis.
c. Kaji kualitas sputum : warna, bau dan konsitensi.
d. Monitor, tensi, nadi, respirasi, suhu tiap 6 jam.
e. Beri posisi semi fowler / fowler.
f.  Ajarkan pasien cara batuk yang efektif dan produktif
g. Lakukan fisioterapi dada minimal 3 kali / hari.
h. Beri O2 bila perlu
i.  Beri obat-obatan sesuai program dokter
j.  Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan analisa gas darah bila penderita sesak napas / ulang foto thorak.
2. Potensial terjadinya penularan sehubungan dengan ketidaktahuan pasien dalam membuang sputum.
Tujuan : Mencegah terjadinya penyebaran kuman dan penularan lebih lanjut.
Kriteria Hasil :
Rencana Tindakan :
a. Jelaskan pada pasien tentang pentingnya isolasi untuk pencegahan penularan kuman melalui udara dan kontak langsung dengan sputum.
b. Ajarkan pasien supaya menutup mulut bila batuk dan bicara tidak berhadapan langsung tetapi memalingkan kepala.
c. Jelaskan pada pasien cara penampungan sputum.
d. Anjurkan pada keluarga pasien untuk memeriksaan diri.
e. Berikan obat-obatan anti tuberkulosis sesuai program dokter.
3. Potensial perubahan nutrisi karena kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan napsu makan menurun.
Tujuan :
Jangka Panjang : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
Jangka Pendek :
o Pasien kooperatif dalam waktu 1 jam.
o Pasien mengerti pentingnya makanan bagi tubuh.
o Pasien mau menghabiskan porsi makanan yang dihidangkan.
o Berat badan stabil (dalam batas normal).
Kriteria Hasil :
Rencana Tindakan :
a. Berikan penjelasan pada pasien tentang pentingnya makanan.
b. Kaji pola makan pasien.
c. Monitor dan catat jumlah dan kualitas makanan yang masuk.
d. Timbang berat badan minimal 1 kali seminggu.
e. Beri posisi fowler saat makan untuk mengurangi sesak.
f. Ciptakan suasana makan yang nyaman.
g. Bantu pasien makan jika tidak mampu.
4. Potensial terjadinya perubahan konsep diri, harga diri yang rendah sehubungan dengan penyakit dan pengobatan yang lama.
Tujuan :
Jangka panjang : pasien tidak bosan dengan pengobatan lama.
Jangka pendek :
o Pasien mengerti bahwa pengobatan penyakitnya perlu waktu yang lama.
o Pasien mau berobat dengan teratur.
o Pasien mau minum obat secara teratur
Kriteria Hasil :
Rencana Tindakan :
a. Kaji persepsi dan penerimaan pasien serta keluarga terhadap penyakit dan pengobatannya.
b. Jelaskan pada pasien bahwa pengobatan perlu waktu lama.
c. Libatkan keluarga dalam mengatasi masalah pasien dengan memberi dukungan dan menerima pasien apa adanya.
d. Motivasi pasien untuk berobat dan minum obat secara teratur.
5. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan perawatan di rumah.
Tujuan : pasien dan keluarga mengerti tentang perawatan dirumah.
Kriteria Hasil :
Rencana Tindakan :
a. Kaji pengetahuan pasien dan keluarga tentang proses penyakit.
b. Jelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
c. Jelaskan pentingnya pengobatan lanjutan dirumah dan kontrol yang teratur.
d. Jelaskan agar tidak minum obat-obtan tanpa konsultasi dengan dokter.
e. Jelaskan pentingnya minim obat secara teratur.
f. Motivasi pasien untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain sampai diperbolehkan dokter.
6. Gangguan rasa nyaman sehubungan nyeri dada.
Tujuan :
Jangka Panjang : penderita tidak mengeluh nyeri dalam waktu + 3 jam.
Jangka Pendek :
o Nyeri berkurang setelah posisi diubah sesuai kebutuhan.
o Nyeri berkurang + ½ jam setelah diberi analgesik.
Kriteria Hasil :
Rencana Tindakan :
a. Jelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri.
b. Kaji lama, frekuensi, tipe dan lokasi nyeri.
c. Beri posisi yang bisa mengurangi rasa nyeri sesuai keadaan pasien.
d. Observasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, tensi, pernapasan.
e. Ajarkan tehnik relaksasi.
f. Ciptakan suasana tenang
g. Laksanakan kolaborasi dengan dokter dalam memberikan obat analgesik.

G. PELAKSANAAN
Perwujudan dari tindakan perawatan yang telah direncanakan yang terdiri dari validasi (pengesahan rencana keperawatan). Menulis / mendokumentasikan rencana keperawatan dan memberikan Asuhan Keperawatan.
H. EVALUASI
Kegiatan yang disengaja dan terus menerus dengan melibatkan penderita, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya.

SATUAN ACARA KEGIATAN (SAK) INFARK MIOKARD AKUT

A. DEFINISI
Penyakit jantung yang disebabkan karena adanya penyumbatan dari pembuluh coronaria kiri dan kanan atau salah satu cabangnya menjadi mati dan mengalami fibrosis.
B. PATOFISIOLOGI
Penyebab paling banyak dari infark miokard adalah sumbatan total atau sub total pada pembuluh darah dan cabang- cabangnya dengan aterosklerotik berat dan thrombus yang pada awalnya akan menyebabkan iskemik otot jantung. Oleh karena berkurangnya aliran darah dan oksigen pada otot jantung terkait, maka akan mengakibatkan gerakan pada dinding segmen yang mengalami iskemik menjadi abnormal dan bagian tersebut akan menonjol keluar setiap kali ventrikel berkontraksi.
Iskemi yang lamanya lebih dari 30-45 menit menyebabkan kerusakan pada sel yang irreversible dan kematian otot jantung ( nekrosis). Lamanya infark tergantung pada kemampuan jaringan di sekitarnya memberikan sirkulasi kolateral ( sirkulasi tambahan). Gambaran klinik infark miokard ditentukan oleh tempat dan lamanya proses penyakit. Penyumbatan pada’ left arteri descending’ ( LAD) menyebabkan infark ventrikel kiri bagian anterior. Penyumbatan pada ‘circumflex Branch’ dari arteri koronaria kiri menyebabkan infark terjadi karena sumbatan arteri koronaria kanan.
C. ETIOLOGI
1. Tertutupnya salah satu cabang arteri koroner
2. Sklerosis pembuluh darah koroner
D. GEJALA KLINIK
Keluhan nyeri substernal dapat juga prekardial/ epigastrium sifatnya seperti tertekan benda berat ditusuk- tusuk, diiris-iris, rasa panas yang sukar diuraikan, yang menjalar kekiri, keleher sampai tercekik.
Penderita dapat meninggal secara mendadak/ tidak, pada pemeriksaan Nampak penderita yang sedang kesakitan, keringatdingin hipetensi, nadi permulaan lambat, kemudian agak cepat, sering ditemukan aritmia. Pada auskultasi bunyi jantung terdengar jauh dan lemah, sering terdengar gallop protodialistik atau gallop presistolik.
E. PENATALAKSANAAN
a. Tirah baring
b. Diet harus mudah dicerna dan tidak menimbulkan obstipasi
c. Tindakan medis
Pemberian oksigen
Obat- obatan
Trombolitik misalnya: streptokinase
Nitrogliserin/ isosorbit dinitrat
Betabioker misalmya tenormin
1 a. Data Subyektif:
Riwayat penyakit:
1. Diabetes mellitus
2. Hipertensi
3. Pembuluh darah koroner
4. Penyakit saluran nafas
Nyeri dada retrostrernal atau tertekan yang menjalani ke bahu, leher, rahang bahkan punggung epigastium sampai lengan
Lemah
Takut akan kematian
Cemas tentang pekerjaan
Merasa tegang
b. Data Obyektif :
Hipotensi
Denyut nadi tidak teratur
Takikardi
Bradikardi
Sesak nafas waktu istirahat/ aktifitas
Sianosis
Ekspresi menyeringai
Nafsu makan menurun
Muntah
Oedema
E. DIAGNOSA, TUJUAN, KRITERIA HASIL DAN RENCANA TINDAKAN
1. Nyeri dada sehubungan dengan iskemi atau nekrosis otot jantung
Tujuan :
Nyeri berangsur-angsur berkurang/ hilang
Kriteria hasil:
Ekspresi muka tidak menyeringai, tidak pucat, tidak nyeri
Rencana tindakan:
a. Anjurkan pasien untuk istirahat baring 24-30 jam pertama
b. Beri posisi kepela lebih tinggi dari kaki sampai pasien merasa nyaman.
c. Anjurkan pasien untuk melakukan relaksasi dengan menarik nafas dalam tahan sebentar kemudian hembuskan perlahan- lahan
d. Ciptakan lingkungan yang tenang
e. Observasi tanda- tanda vital
f. Observasi nyeri, lokasi, lama dan penyebabnya
g. Berdiet lunak
h. Kolaborasi dengan dokter tentang pengobatan
2. Keterbatasan melakukan aktifitas sehari- hari sehubungan dengan kelemahan fisik karena menurunnya  curah jantung
Tujuan :
Pasien mamapu melakukan aktifitas sehari- hari secara bertahap
Kriteria hasil:
Pasien beraktifitas tanpa sesak nafas
Rencana tindakan:
a. Bantu kebutuhan pasien sesuai kebutuhan
b. Observasi tanda- tanda vital: suhu, nadi tensi, pernafasan
c. Latih pasien untuk mobilisasi secara bertahap
d. Catat perkembangan- perkembangan yang dicapai oleh pasien
e. Anjurkan pasien segera menghentikan aktifitas bila ada nyeri
f. Anjurkan pasien untuk latihan merawat diri secara bertahap
3. Kurangnya pengetahuan pasien sehubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit
Tujuan:
Pasien tahu tentang proses penyakitnya
Kriteria hasil:
Pasien dapat beraktifitas sesuai dengan kemampuan
Pasien dapat menghindari factor-faktor resiko
Pasien rutin kontrol kedokter
Rencana tindakan:
a. Kaji tingkat pengetahuan pasian tentang penyakitnya
b. Beli penjelasan pada pasien dan keluarganya tentang proses penyakitnya
c. Motivasi pada keluarga untuk memberi dukungan moril kepada pasien
d. Jelaskan tujuan dan resiko- resiko bila tidak melakukan pembatasan aktifitas
e. Kolaborasi dengan dokter dalam menjelaskan proses penyakitnya
4. Potensial tidak efektifnya mekanisme penyesuaian individu dan keluarga sehubungan dengan perubahan pola hidup paksa infark miokard
Tujuan :
Pasien dan keluarga dapat menjalani program perawatan dan pengobatan dirumah.
Kriteria hasil:
Pasien dan keluarga paham dan dapat melaksanakan program perwatan secara mandiri di rumah
Rencana tindakan:
a. Jalaskan pada keluarga dan pasien pentingnya kelanjutan program perawatan/ pengobatan di rumah
b. Beri pendekatan pada keluarga untuk member dukungan
c. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya
F. PENATALAKSANAAN
Merupakan realisasi dari rencana tindakan keperawatan menjadi suatu kegiatan asuhan keperawatan menjadi suatu asuhan keperawatan serta didokumentasikan.
G. EVALUASI
Menilai dan membandingkan status  kesehatan pasien ( reaksi dan perubahan tingkah laku) dengan bertolak kur pada tujuan yang sudah ditetapkan.


SAK PNEUMONIA

DEFINISI    
: Suatu peradangan paru-paru yang disebabkan oleh bermacam-macam sebab seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing
Macam-macam Penumonia:
1. Labair Pneumonia : radang yang terjadi pada lobus
2. Brancho Pnemonia : radang yang terjadi pada bronkus

PATOFISIOLOGI   :
 Kuman masuk ke dalam paru-paru melalui pernafasan sampai bronkial dan alveoli. Kemudian bakteri akan memperbanyak diri dan akhirnya akan timbul reaksi radang berupa oedem yang tersebar dalam lobus melalui intra alveolar. Sebagai penyakit yang progresif, Red Hepatisasi yang timbul disebabkan oleh eritrosit dan beberapa leukosit. Sebagian paru-paru tersebut berudara dan memberi gambaran suram pada radiologi. Pada tingkatan selanjutnya sejumlah besar leukosit akan ditarik ke suatu daerah kemudian diikat dengan Imunoglobulin, makrofag menerima leukosit yang sudah mati dan mengandung bakteri. Karena proses ini paru-paru akan berwarna kelabu kekuning-kuningan disebut Hepatisasi Kelabu.

PENATALAKSANAAN :
 -    Memberikan O2
-   Obat-obat Bronkodilator
-   Pemberian Steroid
-   Diet TKTP (tinggi Kalori Tinggi Protein)

   Pemeriksaan Penunjang :
- Kultur darah, skcret, dan cairan pleura
- Leukosit, bbs, analisa gas darah
- Thorax photo, mantoux test
- Urine : bilirubin meningkat
PENGKAJIAN
 : a. Data Subyektif :
 Penderita mengeluh nyeri, sesak, kedinginan, sulit tidur
b. Data Obyektif
  Sianosis, BB  , pasien tampak gelisah, tensi naik turun, frekuensi  nafas   , nadi cepat, sesak, gigi gemetar, menggigil, nafsu makan    , suhu  
 c. Data diagnostic tes :
LED
Bilirubin
Leukosit

DIAGNOSA, TUJUAN   :
1. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan sesak KRITERIA HASIL, DAN        nafas
RENCANA TINDAKAN  KEPERAWATAN
    Tujuan :
                  Terpenuhinya kebutuhan O2  pasien normal 1000-1500 liter / hari
   Kriteria Hasil :
Pasien kooperatif terhadap tindakan perawatan yang diberikan
Pasien tidak sesak setelah diubah posisi tidurnya
     Rencana tindakan :
a. Berikan penjelasan pasien tentang tindakan yang dilakukan
b. Atur posisi pasien dan latihan napas
c. Berikan 0,2-3 liter/menit
d. Observasi tanda-tanda vital

2. Gangguan pemenuhan nutrisi sehubungan dengan penurunan  nafsu makan ditandai dengan BB turun
     Tujuan :
     Terpenuhinya kebutuhan nutrisi pasien
     Kriteria Hasil :
Penderita menyadari tentang pentingnya makanan bagi tubuh pelayanan sakit
Pasien menghabiskan porsi makanan yang disediakan
Berat badan meningkat dalam satu minggu satu kilogram
Rencana Tindakan :
a. Menjelaskan arti pentingnya gizi bagi tubuh
b. Memberikan makanan yang tinggi kalori, tinggi protein yang rutin
c. Menimbang berat badan setiap minggu
d. Hidangkan makanan yang menarik dan hangat

3.  Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan radang pleura
     Tujuan :
     Terpenuhinya suhu tubuh pasien normal
     Kriteria Hasil :
suhu tubuh menurun dalam jangka waktu 30 menit
pasien minum air putih 2-3 liter / menit
Rencana Tindakan :
a. Jelaskan pada pasien pentingnya air dingin dan minum banyak bagi tubuh yang panas
b. Berikan kompres dingin
c. Berikan obat sesuai instruksi dokter
d. Anjurkan pakai pakaian tipis

4.  Gangguan pola istirahat tidur sehubungan dengan nyeri pleura yang ditandai dengan pasien tampak gelisah
Tujuan ;
Kebutuhan istirahat terpenuhi
Kriteria Hasil :
Rasa nyeri berkurang
Pasien dapat tidur
     Rencana tindakan :
a. Berikan penjelasan tentang pentingnya tidur
b. Anjurkan pasien tidur kearah yang tidak sakit
c. Anjurkan pasien tidur sesuai dengan kebiasaannya
d. Observasi waktu tidur pasien

5. Cemas sehubungan dengan kurang informasi tentang status kesehatannya
Tujuan :
Cemas berkurang
Kriteria hasil :
bisa diajak bekerja sama dalam pengobatan
tidak gelisah
pasien mampu mengungkapkan perasaannya
Rencana Tindakan :
a. Jelaskan pada pasien tentang pentingnya fungsi pernafasan
b. Ajarkan pada pasien tentang tentang cara-cara pencegahan kekambuhan
c. Anjurkan pasien untuk menjauhkan diri dari kebiasaan merokok
d. Jelaskan pentingnya latihan batuk efektif dan nafas dalam
e. Jelaskan pentingnya pengobatan teratur
f. Kolaborasi dengan dokter untuk menjelaskan penyakitnya

PELAKSANAAN                  :
Perwujudan dari tindakan perawat yang telah direncanakan  yang terdiri dari validasi (pengesahan) rencana keperawatan. Menulis / mendokumentasikan rencana keperawatan dan memberikan asuhan keperawatan

EVALUASI                     :
Kegiatan yang disengaja dan terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat, dan anggota tim ke lainnya